SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Situs sunankudus.blogspot.com, yang menyajikan Site Bernuansa Islami berisikan Hikmah Al-qur'an dan Mutiara Hadits, insya Allah dapat memberikan kesejukan hati dan ketentraman jiwa bagi anda yang mengunjungi Site ini. Membawa Anda kepada pemahaman Islam yang benar sesuai apa yang di bawa Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. semoga situs ini menjadi sumbangan dalam perjuangan islam. Pesan saya: Ikutilah Jalan Sirotulmustaqim dengan sungguh-sungguh. karena jalan otulah yag termudah menuju Allah dan syurga-Nya. Kurang dan lebihnya blog ini maafin yaa..saran dan kritik bisa kamu kirim ke santrisunny@yahoo.co.id. sukron katsiron telah mampir ke blog ini.. yang mau kirim tulisan silahkan email ke santrisunny@yahoo.co.id

Kamis, 30 Oktober 2008

Penjelasan Tentang Nifaq/Munafiq

Nifaq ada dua macam, yaitu:
1) Nifaq I’tiqadiy;
Pada umumnya, nifaq itiqadiy adalah nifaq akbar, yaitu bersemayam-nya kekufuran di hati seseorang, baik karena adanya pendustaan, ataupun karena tidak adanya ketundukan (perbuatan) hati, tetapi secara zhahir (lisan dan perbuatan), sang munafiq menampakkan keimanan. Orang se-perti ini tetap diperlakukan sebagai seorang muslim, sampai kekufuran yang ada di hatinya diwujudkan dalam bentuk kekufuran lisan atau per-buatan. Apabila hal ini terjadi, maka orang tersebut diperlakukan sebagai seorang murtad.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang berkata kami beriman pada Allah dan hari akhir sedangkan mereka bukanlah orang-orang mu’min.” QS. al-Baqarah (2):8

2) Nifaq ‘Amaliy;

Pada umumnya nifaq ‘amaliy adalah nifaq asghar, yaitu ketika seseorang hanya mengerjakan beberapa sifat dan amal perbuatan orang munafiq. Tetapi apabila semua amal perbuatan dan sifat-sifat orang munafiq diker-jakan, maka orang itu pun terjatuh kepada nifaq akbar, yaitu akan menjadi munafiq murni.

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan di antara mereka ada yang berjanji pada Allah, apabila datang pada kami karunia-Nya, tentu kami akan bersedekah serta kami akan menjadi orang-orang shaleh. Maka tatkala datang pada mereka karunia-Nya, lalu mereka berbuat bakhil dan berpaling, maka Allah menjadikan kenifakan di hati-hati mereka sampai hari mereka menemui Allah dikarenakan pengingkaran janji mereka terhadap Allah dan dengan sebab kedustaan-kedustaan mereka.” QS. at-Tau-bah(9): 75-77

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ تَابَ

“Ada empat perkara yang bilamana hal tersebut terkumpul pada diri seseorang, maka ia adalah seorang munafiq murni. Dan barangsiapa yang ada pada diri-nya satu bagian darinya, maka pada dirinya ada satu sifat nifaq hingga ia meninggalkannya, yaitu: apabila diamanati ia berbuat khianat, bila berbicara berdusta, bila berjanji melanggar dan bila berselisih berbuat aniaya.” (HR. Bukhari No. 33, Muslim No. 88, Tirmidzi No. 2556, Nasa’i No. 4934, Abu Dawud No. 4068 dan Ahmad No. 6479)
Di antara sifat-sifat utama kaum munafiqin adalah:
1) Mendustakan Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–,
2) Mendustakan sebagian risalah Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–,
3) Membenci Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–,
4) Membenci sebagian risalah Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–,
5) Bergembira terhadap kemunduran Islam dan umat Islam, dan
6) Bersedih atas kemajuan Islam dan umat Islam.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah।” [QS. at-Taubah (9): 58]

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِين
َ
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka laku-kan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya ber-senda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?”. Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian kafir sesudah beriman. Jika Kami mema-afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [QS. at-Taubah (9): 65-66]

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” [QS. an-Nisaa’ (4): 61]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(kalian); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi pe-tunjuk kepada orang-orang yang zhalim.
Maka kalian akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan keme-nangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasia-kan dalam diri mereka” [QS. al-Maaidah (5): 51-52]

Beberapa sifat munafiq yang terkadang menghinggapi orang-orang ber-iman dan termasuk nifak asghar yang harus diwaspadai adalah meng-khianati amanah, berbohong, malas shalat (khususnya shalat jama’ah) dan sebagainya.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan mem-balas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali” [QS. an Nisaa’ (4): 142]

Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ. وفى رواية: وَ إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَ إِذَا عَاهَدَ غَدَرَ

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: yaitu bila berkata berbohong, bila ber-janji tidak menepati dan bila dipercaya berkhianat॥ Dalam riwayat lain: “Apabila bertengkar melampaui batas, dan bila membuat perjanjian ia melang-garnya।” (HR. Bukhari No. 33 dan Muslim dalam Syarah Nawawi 2/46)

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى اْلمُنَافِقِيْنَ صَلاَةُ عِشَاءِ وَصَلاَةُ اْلفَج
ْرِ
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Fajar (Shubuh).” (HR. Bukhari No. 657 dan Muslim No. 651)

Sifat-sifat nifaq ashghar dapat menyusup atau hinggap pada diri orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang tidak berhati-hati, lama-kelamaan karena terlalu banyaknya sifat nifaq asghar, maka orang tersebut dapat disusupi nifaq akbar. Demikian berbahayanya nifaq, maka para shaha-bat pun sangat takut kalau sewaktu-waktu mereka dihinggapinya.
Ibnu Abi Mulaikatah –Rahimahullah– berkata:

أَدْرَكْتُ ثلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ– كُلَّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ

“Saya berjumpa dengan 30 shahabat Rasulullah, semuanya mengkhawatirkan berjangkitnya nifak dalam diri mereka).”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

BERITA TERKINI

Rabu sore kemarin (02/12), otoritas penjajah Zionis memberikan surat resmi kepada Kepala Badan Tertinggi Islam di Al-Quds, yang isinya melarang khatib masjid Al-Aqsha Syekh Ikrimah Shabri untuk masuk masjid Al-Aqsha selama 6 bulan ke depan.

Ketika Syekh Shabri baru saja pulang dari Saudi kemarin, otoritas Zionis langsung memanggilnya untuk diinterogasi. Karena kelelahan sebab baru saja pulang dari perjalanan jauh, Syekh Shabri sempat meminta pengacarnya Khalid Zabariqah untuk mengundur waktu ke hari lain untuk memenuhi panggilan Zionis itu.

Akan tetapi Zionis menolak untuk menunda dan mengancam akan menangkap Syekh Shabri jika tidak segera memenuhi panggilan otoritas Zionis. Oleh karena itu, Syekh Shabri terpaksa segera menuju ruang intelijen No. 4 yang berada di pusat penahanan dan penyelidikan "Compound" sebelah Barat Al-Quds, untuk menerima keputusan pelarangannya memasuki masjid Al-Aqsha.

Sebelumnya beberapa hari yang lalu, otoritas penjajah Zionis juga mengeluarkan beberapa keputusan yang menjauhkan hak pribadi, nasional, agama, dan lembaga-lembaga dari masjid Al-Aqsha. (Sn/ikh/myj)

eramuslim.com